Awal Kesadaranku
“Mayla, apa kau masih
di kamar ?” teriak Ibu sambil menyiapkan sesuatu di dapur.
“Iya Ibu”
“Coba keluar, antarkan
makanan ini ke suro di sebrang jalan”
“Baiklah Bu” jawabku tanpa mengelak. Entahlah, ini
mungkin sudah yang ke 100 kali Ibu merusak kesenanganku di kamar.Ya, hampir
setiap sore aku menghabiskan 2 jam sebelum menjelang magrib untuk membaca buku
di kamar kecilku.
Aku Mayla Ananda, anak ke 2 dari dua
bersaudara, aku dan kakak perempuanku. Usiaku 15 tahun dan akan menginjak 16
tahun di bulan Februari tahun ini. Tak seperti kebanyakan gadis kecil yang
menghabiskan waktunya untuk bermain, aku lebih suka berdiam diri di rumah dan
menghabiskan lembar demi lembar buku sosiologiku. Memang benar, buku-buku yang
aku baca jauh melampaui usiaku sekarang. Mungkin karena itu cara berpikirku 10
tahun lebih tua dari usiaku. Keadaan itu bukan datang dengan sendirinya.
Keanehan itu muncul sejak ulang tahun ke 15 tahun lalu. Aku hanya merayakan
ulang tahunku 4 tahun sekali ya karena aku lahir di tanggal 29 Februari yang
hanya ada di tahun kabisat. Maka dari itu, setiap tanggal itu Ibu selalu
merayakan ulang tahunku secara mewah.
Malam itu, aku terlihat
cantik dengan gaun putih ditemani sepatu kaca pemberian kakakku. Wajahku yang
bulat dibalut dengan kacamata tebal, sangat terlihat manis saat itu. Semua
teman kelasku datang, tak terkecuali sahabat baikku, Riana. Ayah dan kakakku
juga terlihat di pesta itu. Ayah seorang tentara yang bertugas di luar Jawa
sehingga untuk bertemu dengannya perlu menunggu beberapa tahun lamanya.
Sedangkan kakakku saat ini menempuh pendidikan tinggi di universitas luar kota
dan pulang hanya saat libur panjang.
Ibu sangat sibuk menyiapkan makanan untuk para
tamu hingga tak mempedulikan siapa saja yang datang. Sedangkan ayah duduk
bercengkrama dengan temannya yang kebetulan ayah Riana. Kakakku terlihat di
tengah-tengah krumunan orang yang datang dengan kamera melingkar di lehernya.
Aku, Riana dan beberapa teman kelasku juga tak kala sibuk, kami asyik ngobrol dengan
topik yang tak begitu penting bagiku. Ya Riana sangat suka bahas soal
cowok-cowok sekolah yang menurutnya keren, itulah yang terkadang membuatku
sebal padanya. Dengan wajah agak bete,
aku mencoba berpura-pura mengerti apa yang dimaksud Riana. Sejauh ini, aku
menangkap dari 1 jam celotehannya hanya seputar Jons yang tampak keren di
pestaku. Jons adalah satu-satunya cowok keren di kelasku, selain ganteng dia
jago basket dan main musik itulah yang membuat cewek tergila-gila padanya,
termasuk Riana.
Bola-bola mataku
sekilas melihat tumpukan-tumpukan kado di sudut ruangan. Tumpukan-tumpukan itu
seolah melambai-lambai untuk segera dibuka isinya. Namun seperti yang diduga,
Riana masih asyik dengan celotehannya meskipun satu demi satu temanku berpamit
untuk pulang. Untunglah tak lama kemudian, Om Sandhy, Ayah Riana mengajaknya
pulang.
“Rin, yuk pulang nak,
lihat ini sudah hampir jam 10 malam” sambil melihat jam tangan yang melingkar
di tangan kirinya.
“yaa Ayah, menggangu
saja”
“Sudahlah, lain kali di
sambung lagi, kasian Mayla lihat wajahnya nampak lelah”.
“ya sudahlah” saut
Riana dengan lemas.
Akhirnya Riana pulang,
meski dia pasti akan bercerita hal itu lagi, setidaknya sekarang aku sudah
lepas darinya. Kini tinggal aku, Ibu, Ayah, dan kakakku yang tersisa di ruang
tamu. sisa-sisa makanan juga masih berserakan di meja, terlihat kakak yang
mulai membantu Ibu yang mulai kelelahan. Ayah juga mulai sedikit membantu
dengan membuang gelas-gelas plastik sisa dari
tempat es teler buatan ibuku. Aku hanya tertarik untuk menggotong
tumpukan-tumpukan kado untuk dibawa ke kamarku. Saking banyaknya kado yang
kudapat aku harus bolak-balik dari ruang tamu ke kamarku yang hanya berjarak 7
meter.
“ uuhh.. akhirnya
selesai juga” teriakku lega sambil mengusap keringat di dahiku.
Setelah berhasil
mengangkut semua kado ke kamarku, tiba-tiba gairah untuk membukanya telah
sirna. Aku sudah mulai kelelahan dan mengantuk. Tapi sekilas mataku melihat
sebuah kado yang tak biasa. Terlihat dari beberapa kado dengan bungkus yang
menarik, hanya kotak itu saja yang terbungkus dengan koran tanpa hiasan. Tangan
kananku mulai meraih kotak itu dan segera membukanya.
“aneh, tak biasanya
temanku membungkusnya dengan koran” batinku
Koran itu juga tampak
sudah lama sekali, dengan tak sengaja aku membaca beberapa judul di bagian
depan.
Aneh, mana mungkin
temanku mendapatkan koran selama itu dan mungkin saja mereka juga belum lahir
di tahun itu. Kalaupun iku kado dari teman Ayah, tidak ada nama atau ucapannya.
Kalau tidak salah teman Ayah yang datang hanya Om Sandhy, itu pun dia
memberikan kado yang bungkusnya sama dengan Riana.
“sudahlah, masa bodoh
dengan koran dan siapa yang mengirimnya” seruku yang mulai binggung.”
Bersambung.......






0 komentar:
Posting Komentar