Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Para Pedagang Bakso Tusuk



Para Pedagang Bakso Tusuk
Pedagang bakso tusuk kiranya sudah tidak asing lagi bagi kita yang hobinya jajan. Rasa bakso yang khas dan gurih ditambah dengan sambal atau caos yang pedas menambah kenikmatan sehingga bakso tusuk sangat diminati oleh banyak orang. Oleh karena itu, pedagang bakso tusuk sangat menjamur di kawasan Yogyakarta tak terkecuali wilayah sekitaran UGM.
Biasanya para pedagang bakso tusuk  berjualan di sekitar UGM lebih tepatnya di pinggir-pinggir kawasan UGM. Para pedagang biasanya mulai berjualan sekitar pukul 8 pagi yang memang waktu mahasiswa mulai berdatangan. Harga bakso tusuk ini juga relatif murah yang umumnya di jual dengan harga Rp. 500,- perbiji sehingga pas dengan kantong mahasiswa.  Umumnya ukuran baksonya juga tidak begitu besar sehingga pembeli biasanya membeli lebih dari satu biji.
Ciri pedagang bakso tusuk ini biasanya memakai gerobak kecil yang diletakkan dibelakang sepeda motornya. Ditambah etalase kecil dalam gerobak guna memperlihatkan bakso-baksonya sehingga dapat menarik para pembeli. Jumlah pedagang yang relatif banyak menuntut para pedagang untuk pintar-pintar dalam menarik perhatian para pembeli, beberapa pedagang memilih untuk menghias atau mempercantik gerobaknya sehingga membuat para pembeli penasaran sehingga tertarik untuk membelinya.
Persaingan yang ketat ini, menuntut para pedagang berinovasi tak hanya dengan mempercantik gerobaknya tapi juga memperbanyak jenis daganganya. Beberapa pedagang biasanya mengombinasikan bakso dengan tahu atau bisa disebut bakso tahu. Dengan begitu pembeli tidak bosan dengan hanya bakso tusuk saja. Tak hanya itu, beberapa pedagang juga berinovasi dalam cara penyajiannya kalau pada umumnya bakso tusuk hanya disajikan dengan di rebus biasa tapi beberapa pedagang tak hanya sekedar di rebus terus langsung dijual tapi sebelum baksonya sampai ke pembeli pedagang membakar bakso tersebut sengga rasanya semakin khas, biasanya dengan cara tersebut pedagang menamai baksonya dengan bakso tusuk bakar.
Pedagang yang terlalu banyak ini juga tak mempungkiri jarak satu pedagang dengan pedagang yang lain berdekatan misalnya saja di kawasan UGM depan Sekolah Vokasi. Di sana saja terdapat 5 lebih pedagang bakso tusuk yang saling berjejer dan berhadap-hadapan. Berbeda dengan penjual bakso tusuk yang ada di depan Fakultas Kehutanan yang relatif  tidak mempunyai banyak pesaing sesama pedagang bakso tusuk. Akan tetapi, pedagang yang berjualan di depan Fakultas Kehutanan bersaing dengan pedagang cimol dan gorengan yang notabene juga jajanan yang tak kalah banyak peminatnya juga.
Ø  Pola Ganjaran dan Sangsi jika tidak melakukan yang telah disepakati
Dalam dunia perdagangan apalagi dalam perdagangan skala kecil tidak ada peraturan yang mengikat. Akan tetapi, ada pola-pola umum yang dengan sendirinya terbentuk.
Misalnya soal harga bakso tusuk biasa (ukuran, bentuk yang berlaku umum)  pada umumnya harganya Rp 500,- maka pedangan-pedagang harus mengikuti pola-pola umum ini. Memang tidak ada hukum atau peraturan yang mengikuti akan tetapi ini akan berpengaruh dengan respon pembeli dan sesama penjual bakso tusuk.  Proses berpengaruhnya atau ganjaran yang didapat jika pedagang bakso tusuk tidak mengikuti pola yang sudah dibentuk adalah
ü  Jika bentuk, ukuran, rasa hampir sama dengan yang lain  dan harga melampaui harga yang berlaku secara umum ini akan berpengaruh pada pembeli yang cenderung akan menghindar. Jika membeli itu pun akan cenderung tidak mengulangi lagi.
ü  Jika harga di bawah harga pada umumnya maka ini akan berpengaruh pada teman sesama pedagang bakso tusuk karena dianggap tidak mengikuti pola yang ada dan akan menjadi gunjingan para sesama pedagang. Ini juga akan menimbulkan pertanyaan oleh para pembeli karena dianggap murah maka beberapa orang meragukan keaslihan bakso tusuk tersebut.
Ø  Faktor pendorong terjadinya perubahan
ü  Persaingangan yang ketat dan cukup banyak.  Ini akan mengakibatkan para pedagang bakso tusuk  dituntut untuk selalu berinovasi sehingga bisa menciptakan sesuatu yang beda dari pedagang yang lain.
ü  Tuntutan konsumen atau pembeli.  Ini juga akan mengakibatkan pegangan dituntut untuk bisa memahami selera konsumen atau pembeli.  Misal konsumen kebanyakan menyukai makanan pedas tapi juga tidak menuntut ada konsumen yang tidak menyukai makanan pedas. Keadaan ini juga menuntut pedagang untuk berinovasi maka beberapa pedagang bakso tusuk membuat level padaa saosnya, mulai dari level satu bagi konsumen yang tidak menyukai makanan pedas hingga level 10 yang super pedas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar