Para
Pedagang Bakso Tusuk
Pedagang
bakso tusuk kiranya sudah tidak asing lagi bagi kita yang hobinya jajan. Rasa
bakso yang khas dan gurih ditambah dengan sambal atau caos yang pedas menambah
kenikmatan sehingga bakso tusuk sangat diminati oleh banyak orang. Oleh karena
itu, pedagang bakso tusuk sangat menjamur di kawasan Yogyakarta tak terkecuali
wilayah sekitaran UGM.
Biasanya
para pedagang bakso tusuk berjualan di
sekitar UGM lebih tepatnya di pinggir-pinggir kawasan UGM. Para pedagang
biasanya mulai berjualan sekitar pukul 8 pagi yang memang waktu mahasiswa mulai
berdatangan. Harga bakso tusuk ini juga relatif murah yang umumnya di jual
dengan harga Rp. 500,- perbiji sehingga pas dengan kantong mahasiswa. Umumnya ukuran baksonya juga tidak begitu
besar sehingga pembeli biasanya membeli lebih dari satu biji.
Ciri
pedagang bakso tusuk ini biasanya memakai gerobak kecil yang diletakkan
dibelakang sepeda motornya. Ditambah etalase kecil dalam gerobak guna
memperlihatkan bakso-baksonya sehingga dapat menarik para pembeli. Jumlah
pedagang yang relatif banyak menuntut para pedagang untuk pintar-pintar dalam
menarik perhatian para pembeli, beberapa pedagang memilih untuk menghias atau
mempercantik gerobaknya sehingga membuat para pembeli penasaran sehingga
tertarik untuk membelinya.
Persaingan
yang ketat ini, menuntut para pedagang berinovasi tak hanya dengan mempercantik
gerobaknya tapi juga memperbanyak jenis daganganya. Beberapa pedagang biasanya
mengombinasikan bakso dengan tahu atau bisa disebut bakso tahu. Dengan begitu
pembeli tidak bosan dengan hanya bakso tusuk saja. Tak hanya itu, beberapa
pedagang juga berinovasi dalam cara penyajiannya kalau pada umumnya bakso tusuk
hanya disajikan dengan di rebus biasa tapi beberapa pedagang tak hanya sekedar
di rebus terus langsung dijual tapi sebelum baksonya sampai ke pembeli pedagang
membakar bakso tersebut sengga rasanya semakin khas, biasanya dengan cara
tersebut pedagang menamai baksonya dengan bakso tusuk bakar.
Pedagang
yang terlalu banyak ini juga tak mempungkiri jarak satu pedagang dengan
pedagang yang lain berdekatan misalnya saja di kawasan UGM depan Sekolah
Vokasi. Di sana saja terdapat 5 lebih pedagang bakso tusuk yang saling berjejer
dan berhadap-hadapan. Berbeda dengan penjual bakso tusuk yang ada di depan
Fakultas Kehutanan yang relatif tidak
mempunyai banyak pesaing sesama pedagang bakso tusuk. Akan tetapi, pedagang
yang berjualan di depan Fakultas Kehutanan bersaing dengan pedagang cimol dan
gorengan yang notabene juga jajanan yang tak kalah banyak peminatnya juga.
Ø Pola
Ganjaran dan Sangsi jika tidak melakukan yang telah disepakati
Dalam
dunia perdagangan apalagi dalam perdagangan skala kecil tidak ada peraturan
yang mengikat. Akan tetapi, ada pola-pola umum yang dengan sendirinya
terbentuk.
Misalnya
soal harga bakso tusuk biasa (ukuran, bentuk yang berlaku umum) pada umumnya harganya Rp 500,- maka
pedangan-pedagang harus mengikuti pola-pola umum ini. Memang tidak ada hukum
atau peraturan yang mengikuti akan tetapi ini akan berpengaruh dengan respon
pembeli dan sesama penjual bakso tusuk.
Proses berpengaruhnya atau ganjaran yang didapat jika pedagang bakso
tusuk tidak mengikuti pola yang sudah dibentuk adalah
ü Jika
bentuk, ukuran, rasa hampir sama dengan yang lain dan harga melampaui harga yang berlaku secara
umum ini akan berpengaruh pada pembeli yang cenderung akan menghindar. Jika
membeli itu pun akan cenderung tidak mengulangi lagi.
ü Jika
harga di bawah harga pada umumnya maka ini akan berpengaruh pada teman sesama
pedagang bakso tusuk karena dianggap tidak mengikuti pola yang ada dan akan
menjadi gunjingan para sesama pedagang. Ini juga akan menimbulkan pertanyaan
oleh para pembeli karena dianggap murah maka beberapa orang meragukan keaslihan
bakso tusuk tersebut.
Ø Faktor
pendorong terjadinya perubahan
ü Persaingangan
yang ketat dan cukup banyak. Ini akan
mengakibatkan para pedagang bakso tusuk
dituntut untuk selalu berinovasi sehingga bisa menciptakan sesuatu yang
beda dari pedagang yang lain.
ü Tuntutan
konsumen atau pembeli. Ini juga akan
mengakibatkan pegangan dituntut untuk bisa memahami selera konsumen atau
pembeli. Misal konsumen kebanyakan
menyukai makanan pedas tapi juga tidak menuntut ada konsumen yang tidak
menyukai makanan pedas. Keadaan ini juga menuntut pedagang untuk berinovasi
maka beberapa pedagang bakso tusuk membuat level padaa saosnya, mulai dari
level satu bagi konsumen yang tidak menyukai makanan pedas hingga level 10 yang
super pedas.






0 komentar:
Posting Komentar