Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Mengidealkan dan Mendewasakan Diri untuk Melahirkan Generasi Cerdas Selanjutnya


Mengidealkan dan Mendewasakan Diri untuk Melahirkan Generasi Cerdas Selanjutnya

Pernikahan bukan hanya perihal menyatukan dua pasangan yang sedang dimabuk cinta tetapi juga penyatuan dua keluarga besar. Tentu pernikahan tidak berhenti pada proses akaq nikah dan pesta resepsi tetapi menyangkut tanggung jawab besar dan berkelanjutan di dalamnya. Oleh karenanya, ke dua pasangan harus melakukan persiapan besar dalam menyambut pernikahan baik itu mental diri maupun masa depan material. Lebih penting lagi, pernikahan menyangkut proses regenerasi dari ke dua pasangan tersebut. Keturunan merupakan salah satu tujuan dari sebuah pernikahan, tentu semua pasangan menginginkan generasi yang lebih baik dari sebelumnya. Oleh karena itu, penting untuk mempersiapkan diri secara ideal dan dewasa dalam proses penyambutan generasi penerus kita.
Proses mengidealkan dan mendewasakan diri sangat penting dalam pengambilan keputusan untuk sebuah pernikahan. Kata “ideal” mengacu pada kesiapan dan ketepatan diri secara material, fisik, maupun usia.  Secara materi, penting bagi kita untuk mempersiapkan masa depan demi berlangsungnya kehidupan keluarga. Singkatnya, pernikahan bukan hanya membicarakan soal cinta tetapi  juga soal kebutuhan materil. Misalnya, rumah sebagai tempat tinggal ke dua pasangan dan calon anak-anaknya, tabungan pendidikan dan kesehatan, dan banyak lagi. Tentu hal tersebut tidak bisa dipenuhi hanya dengan cinta tetapi perlu kematangan materi dalam mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga kelak. Pada umumnya, laki-laki bisa mencapai kesiapan tersebut pada usia diatas 24 tahun. Pada usia tersebut, selain sudah memasuki usia kerja atau produktif, kesuksesan dan kematangan karier juga sangat mungkin didapat.
Selanjutnya, kesiapan fisik juga menjadi takaran ideal dalam mempersiapkan sebuah pernikahan. Terutama pada wanita sebagai calon ibu yang akan melahirkan keturunan-keturunanya.  Hal ini disebabkan oleh proses kehamilan dan kelahiran membutuhkan kesiapan fisik yang matang. Ketidaksiapan fisik dalam proses tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan janin baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Kelainan yang terjadi saat perkembangan embrional, misalnya anomali bentuk rahim, kandung telur tidak berkembang sempurna atau tumbuh ganda (perempuan memiliki dua lubang vagina)[1]. Hal tersebut kecil kemungkinan terjadi jika seorang wanita menikah pada usia diatas 21 tahun. Pada usia tersebut kesempurnan fisik sudah dianggap berkembang secara matang. Selain itu, wanita juga sudah memasuki tahap dewasa bukan lagi pada tahap anak-anak atau remaja sehingga sangat mungkin untuk memiliki kesiapan fisik maupun mental. Tak hanya wanita, laki-laki juga wajib mempersiapkan kematangan fisik. Hal ini menyangkut pada kualitas sperma dalam proses hubungan suami istri dengan pasangan. Pada usia diatas 24 tahun, laki-laki juga sudah dianggap berada pada perkembangan fisik secara sempurna baik dari segi biologis maupun psikologis.
Namun, konsep ideal baik dari segi material, fisik, maupun usia tidak cukup dalam menjawab persiapan dalam menyambut calon generasi-generasi cerdas. Perlu adanya keseimbangan antara konsep mengidealkan dan mendewasakan diri. Kata “dewasa” merujuk pada kesiapan mental baik dari segi pola pikir, emosi, maupun pola perilaku. kedewasaan dalam pernikahan dibutuhkan untuk menyatukan ego dari dua emosi, pikiran, dan perilaku yang berbeda. Tidak bisa dihindari, perbedaan ego akan mempengaruhi keharnomisan dalam kehidupan rumah tangga  sehingga kedewasaan dibutuhkan untuk menekan perbedaan tersebut. Lebih penting lagi, kedewasaan diri juga dibutuhkan dalam proses mendidik anak. Untuk menciptakan generasi cerdas tentu dibutuhkan pola asuh yang baik dan benar. Kedewasaan pola pikir, perilaku, dan emosi orang tua tentu sangat mempengaruhi pola pengasuhan pada anak. Singkatnya, kedewasaan dan kepandaian orang tua menentukan kecerdasan pada anak.
Kunci generasi cerdas berada pada tangan para orang tua. Kita sebagai calon orang tua sudah selayaknya mempersiapkan diri untuk menciptakan dan mencetak generasi-generasi cerdas selanjutnya. Satu keputusan akan menentukan masa depan kita untuk selamanya bukan hanya menyangkut kita dan pasangan tetapi menyangkut generasi-generasi yang kita lahirkan kelak. Jadi, ambillah keputusan itu pada usia yang tepat dan pada diri yang siap untuk menyambut generasi-generasi cerdas yang lahir dari orang tua ideal.


[1] http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/651/jbptunikompp-gdl-dwiwindawi-32525-10-unikom_d-i.pdf .

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar