Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon
Tampilkan postingan dengan label SINTESA_Menulis_edisi_Cerber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SINTESA_Menulis_edisi_Cerber. Tampilkan semua postingan

Awal Kesadaranku



Awal Kesadaranku
 
“Mayla, apa kau masih di kamar ?” teriak Ibu sambil menyiapkan sesuatu di dapur.
“Iya Ibu”
“Coba keluar, antarkan makanan ini ke suro di sebrang jalan”
“Baiklah Bu”   jawabku tanpa mengelak. Entahlah, ini mungkin sudah yang ke 100 kali Ibu merusak kesenanganku di kamar.Ya, hampir setiap sore aku menghabiskan 2 jam sebelum menjelang magrib untuk membaca buku di kamar kecilku.
 Aku Mayla Ananda, anak ke 2 dari dua bersaudara, aku dan kakak perempuanku. Usiaku 15 tahun dan akan menginjak 16 tahun di bulan Februari tahun ini. Tak seperti kebanyakan gadis kecil yang menghabiskan waktunya untuk bermain, aku lebih suka berdiam diri di rumah dan menghabiskan lembar demi lembar buku sosiologiku. Memang benar, buku-buku yang aku baca jauh melampaui usiaku sekarang. Mungkin karena itu cara berpikirku 10 tahun lebih tua dari usiaku. Keadaan itu bukan datang dengan sendirinya. Keanehan itu muncul sejak ulang tahun ke 15 tahun lalu. Aku hanya merayakan ulang tahunku 4 tahun sekali ya karena aku lahir di tanggal 29 Februari yang hanya ada di tahun kabisat. Maka dari itu, setiap tanggal itu Ibu selalu merayakan ulang tahunku secara mewah.
Malam itu, aku terlihat cantik dengan gaun putih ditemani sepatu kaca pemberian kakakku. Wajahku yang bulat dibalut dengan kacamata tebal, sangat terlihat manis saat itu. Semua teman kelasku datang, tak terkecuali sahabat baikku, Riana. Ayah dan kakakku juga terlihat di pesta itu. Ayah seorang tentara yang bertugas di luar Jawa sehingga untuk bertemu dengannya perlu menunggu beberapa tahun lamanya. Sedangkan kakakku saat ini menempuh pendidikan tinggi di universitas luar kota dan pulang hanya saat libur panjang.  
 Ibu sangat sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu hingga tak mempedulikan siapa saja yang datang. Sedangkan ayah duduk bercengkrama dengan temannya yang kebetulan ayah Riana. Kakakku terlihat di tengah-tengah krumunan orang yang datang dengan kamera melingkar di lehernya. Aku, Riana dan beberapa teman kelasku juga tak kala sibuk, kami asyik ngobrol dengan topik yang tak begitu penting bagiku. Ya Riana sangat suka bahas soal cowok-cowok sekolah yang menurutnya keren, itulah yang terkadang membuatku sebal padanya. Dengan wajah  agak bete, aku mencoba berpura-pura mengerti apa yang dimaksud Riana. Sejauh ini, aku menangkap dari 1 jam celotehannya hanya seputar Jons yang tampak keren di pestaku. Jons adalah satu-satunya cowok keren di kelasku, selain ganteng dia jago basket dan main musik itulah yang membuat cewek tergila-gila padanya, termasuk Riana.
Bola-bola mataku sekilas melihat tumpukan-tumpukan kado di sudut ruangan. Tumpukan-tumpukan itu seolah melambai-lambai untuk segera dibuka isinya. Namun seperti yang diduga, Riana masih asyik dengan celotehannya meskipun satu demi satu temanku berpamit untuk pulang. Untunglah tak lama kemudian, Om Sandhy, Ayah Riana mengajaknya pulang.
“Rin, yuk pulang nak, lihat ini sudah hampir jam 10 malam” sambil melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.
“yaa Ayah, menggangu saja”
“Sudahlah, lain kali di sambung lagi, kasian Mayla lihat wajahnya nampak lelah”.
“ya sudahlah” saut Riana dengan lemas.
Akhirnya Riana pulang, meski dia pasti akan bercerita hal itu lagi, setidaknya sekarang aku sudah lepas darinya. Kini tinggal aku, Ibu, Ayah, dan kakakku yang tersisa di ruang tamu. sisa-sisa makanan juga masih berserakan di meja, terlihat kakak yang mulai membantu Ibu yang mulai kelelahan. Ayah juga mulai sedikit membantu dengan membuang gelas-gelas plastik sisa dari  tempat es teler buatan ibuku. Aku hanya tertarik untuk menggotong tumpukan-tumpukan kado untuk dibawa ke kamarku. Saking banyaknya kado yang kudapat aku harus bolak-balik dari ruang tamu ke kamarku yang hanya berjarak 7 meter. 
“ uuhh.. akhirnya selesai juga” teriakku lega sambil mengusap keringat di dahiku.
Setelah berhasil mengangkut semua kado ke kamarku, tiba-tiba gairah untuk membukanya telah sirna. Aku sudah mulai kelelahan dan mengantuk. Tapi sekilas mataku melihat sebuah kado yang tak biasa. Terlihat dari beberapa kado dengan bungkus yang menarik, hanya kotak itu saja yang terbungkus dengan koran tanpa hiasan. Tangan kananku mulai meraih kotak itu dan segera membukanya.
“aneh, tak biasanya temanku membungkusnya dengan koran” batinku
Koran itu juga tampak sudah lama sekali, dengan tak sengaja aku membaca beberapa judul di bagian depan.
Aneh, mana mungkin temanku mendapatkan koran selama itu dan mungkin saja mereka juga belum lahir di tahun itu. Kalaupun iku kado dari teman Ayah, tidak ada nama atau ucapannya. Kalau tidak salah teman Ayah yang datang hanya Om Sandhy, itu pun dia memberikan kado yang bungkusnya sama dengan Riana. 
“sudahlah, masa bodoh dengan koran dan siapa yang mengirimnya” seruku yang mulai binggung.” 

Bersambung.......

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS