Konstruksi Masyarakat Mengenai Laki-Laki Dan Perempuan
Laki-laki dan perempuan adalah sebuah klasifikasi yang
memiliki tendensi membedakan jenis kelamin yang didapati secara biologis dimana
keduanya memiliki ciri khas masing-masing. Dilihat dari perspektif biologis
pada ciri fisik yang ada pada laki-laki dan perempuan dapat terlihat bahwa kaum
laki-laki memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan kaum perempuan yang
kemudian acap kali menjadi dasar pengualifikasian kaum laki-laki dan kaum
perempuan dalam tatanan sosialnya.
Dalam kehidupan yang ada, antara laki-laki dan
perempuan tersebut memiliki perannya masing-masing yang pada dasarnya peran
tersebut adalah sesuatu yang telah ada
pada setiap individu berdasarkan kodratnya, sebagaimana diketahui bahwa
laki-laki dan perempuan memiliki kodratnya masing-masing dalam kehidupannya.
Namun dalam masyarakat sosial yang ada, konstruksi masyarakat yang ada pada
laki-laki dan perempuan tersebut dikategorikan pada kasus gender yang melihat
perbedaan jenis kelamin mengacu pada relasi sosial yang terjalin antara
laki-laki dan perempuan dan hal tersebut telah ditetapkan dalam kehidupan
sosial masyarakat.
Peran gender yang ada pada suatu masyarakat yang satu
dan lainnya dapat saling berlainan menyesuaikan pada ideologi, ekonomi, adat,
agama, sosial budaya dan kemajuan IPTEK yang ada pada masyarakat tersebut. Sistem
yang di anut dan berkembang pada sebuah masyarakat akan senantiasa melekat kuat
pada setiap individu didalamnya dalam interaksinya dengan masyarakat. Pada umumnya,
konstruksi yang telah ada pada suatu masyarakat akan mengakibatkan individu
didalamnya mendapati dirinya pada sebuah kondisi yang terkungkung pada
konstruksi tersebut secara tidak disadari. Adapun beberapa individu yang
memiliki kesadaran pola pikir keudian mencoba mendobrak konstruksi sosial
tersebut akan di anggap mengalami penyimpangan dan dianggap aneh.
Dapat dilihat pada masyarakat Indonesia dan masyarakat
jawa khususnya yang menganut budaya patriarkhi dalam kehidupannya akan didapati
adanya perbedaan yang begitu kentara antara laki-laki dan perempuan. Selain
budaya Patriarkhi dalam masyarakat Jawa ini juga memiliki masyarakat yang
mayoritas beragama Islam yang didalamnya terlihat adanya pembagian yang cukup
jelas antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian dalam kehidupan
masyarakat Jawa dapat ditemui realita yang menunjukkan bahwa kaum laki-laki
memiliki derajat yang lebih unggul dan lebih mendoinasi kaum perempuan. Dalam
perspective ini, kaum laki-laki dianggap berada pada posisi sentral masyarakat
dan kaum permpuan seolah berada pada level dibawah laki-laki dan cenderung
dipinggirkan.
Berawal dari budaya patriarkhi dan agama yang ada pada
masyarakat Jawa yang diyakini tersebut kemudian mulai diterapkan pada lingkup
terkecil kehidupan masyarakat yakni keluarga akan terlihat bahwa kaum laki-laki
memiliki kekuasaan diatas perempuan kemudian merambah dalam ranah kehidupan
sosial masyarakat dimana wanita dianggap tidak memiliki kapasitas yang memadai
pada posisi-posisi tertentu yang pada dasarnya anggapan tersebut hanya beranjak
dari suatu konstruksi sosial belaka. Bila ditilik lebih saksama, perempuan
sebenarnya juga memiliki hak dan kemampuan yang setara dengan laki-laki, hanya
saja semua itu tertutup oleh adanya keyakinan dan aturan keagamaan yang
mengharuskan wanita tetap berada di “belakang” kaum laki-laki. Sebenarnya hal
itu merupakan suatu paradigma umum yang sudah diterima masyarakat dari zaman
dahulu dimana perempuan dahulu diidentikkan dengan sifat lemah dan “nrimo”,
artinya bahwa bila diibaratkan sebagai suatu kelas-kelas, perempuan berada di
kelas 2 tepat di bawah laki – laki yang menempati kelas pertama yang dianggap
memiliki power yang lebih dan mempunyai kuasa yang lebih dibandingkan
perempuan. Walaupun zaman sudah memasuki masa yang sudah modern, pandangan ini
tetap ada dan terjaga meskipun lama kelamaan sudah mulai dilupakan karena
masyarakat modern saat ini sudah mengenal berbagai macam informasi dan
kecanggihan teknologi dan tentu saja sejalan dengan kemajuan teknologi,
kemampuan berpikir mereka juga akan turut maju dan mulai menerima adanya sistem
kesetaraan gender yang sekarang sedang giat – giatnya digemborkan di tengah
masyarakat dunia yang mulai faham akan kesetaraan tersebut. Sehingga dengan
demikian masyarakat sudah memiliki pemahaman yang lebih jauh lebih baik
mengenai gender dikarenakan adanya peradaban yang semakin maju dan modern dan
diharapkan bahwa dengan adanya system tersebut, laki – laki dan perempuan akan
menempati posisi sejajar tidak hanya dalam bidang pekerjaan, namun juga di
setiap aspek kehidupan yang ada di kehidupan bermasyarakat.






0 komentar:
Posting Komentar