Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Setangkai Bunga Cinta



Setangkai Bunga Cinta

Gelap mulai datang, bulan bintang mulai menghiasi langit yang mulai hitam, lampu-lampu pun tak kala memperlihatkan kemerlipnya.
Malam ini aku ada janji dengan kekasihku, ini memang bukan kali pertama aku dinner dengan cowok tapi entah mengapa hatiku deg-degan menanti terasa tak sabar ingin berjumpa dengannya.
Aku sibuk memoles wajahku agar terlihat cantik, tak ketinggalan aku balut tubuhku yang mungil dengan sebuah dress pink favoritku.
“Emmm perfect!!!!” batinku ketika aku lihat wajahku dicermin.
Terlintas bayangan saat pertama kali aku jadian dengannya, barawal dari ketidaksengajaan, ketika dia tak sengaja menabrakku cowok yang tak begitu tampan bahkan jauh dari kata keren ini mampu memikat hatiku, karismanya dan tatapan matanya bagai cahaya lilin yang menerangi kegelapan. Dan sejak itulah aku jatuh cinta padanya, ia pun merespon perasaanku dan kami resmi berpacaran.
“Sayang...” teriak mama memotong lamunanku.
“iya ma”
“Clara kamu mau kemana,kok rapi sekali”
“Ea mau dinner lah ma, masak mau ke pasar.”
“Memangnya dengan siapa?”
“Ea ama cowok aku lah, masak ma pak yamin supir kita.”
“Kamu tuh, ditanya orang tua jawabannya ngawur.”
“Habis mama sih, pertanyaannya nggak mutu.”
“Udah dulu ea ma, Clara pergi dulu, daaaa mama,, uummmuahhh” aku cium mama dan segera meninggalkan rumah.

Terlihat dari kejahuan cowok kurus,tinggi,putih berbalut kemeja putih sudah menanti kedatanganku, aku pun segera menghampirinya.
“Hei Ferdi” sapaku sambil duduk.
“Hai”
Ia hanya melirikku, tak sedikitpun ia terlihat terpesona denganku. Aku semakin heran padanya aku udah capek-capek dandan tapi ia tak melihat dan memujiku.
“Memang ada yang salah dengan penampilanku?” tanyaku
“Nggak, cantik kok tapi jika paha dan lenganmu tertutup.” Jelasnya dengan muka berpaling.
Aku hanya bisa diam memandangi seluruh tubuhku yang hampir semua terbuka,dress yang sangat mini tak mampu menutupi paha dan lenganku.
“Aku lebih menghargai wanita yang menutupi aurotnya, tubuhmu tidak untuk diperlihatkan tapi dijaga dengan baik.”
“Tapi aku ingin tampil cantik didepanmu.”
“Cantik bukan dari tubuhmu tapi dari hatimu.’ Dengan melemparkan senyum tipis.
Aku hanya merunduk malu.
“lebih baik kita berteman saja.”
“Kenapa???”
Dia hanya senyum dan meninggalkanku. Butiran-butiran air mata pun tak mampu terbendung cucuran air mata membasahi pipiku yang penuh make up, dinner yang aku dambakan yang aku bayangkan bakal romantis malah berakhir dengan duka dan sebuah penyesalan..
“Ma..ma..” teriakku dengan merengek nangis, aku hampiri mama yang asyik menonton tv diruang tengah.
“Iya sayang, ada apa kok nangis.?”
“Ferdi ma... putusin aku.”
“memangnya kenapa sayang.?”
Aku ceritakan semua kejadian dan perkataan ferdi tadi.
Mama hanya tersenyum tipis terasa ia paham maksud ferdi.
“Ferdi benar sayang.” Suara lembut mama sambil memeluk seraya menenangkan.
“Mama kok malah belain ferdi sih!.”
Mama tersenyum
“ sayang,,  mama nggak belain ferdi tapi mama membenarkan saja.”
Aku semakin bingung tak mengerti apa maksud semua ini.
“sayang, kita sebagai umat islam, umat nabi Muhammad diwajibkan untuk menutup aurot. Mama kan sudah sering bilang tapi kamu tak perna mendengarkan.. ferdi adalah laki-laki yang baik dia berniat menyadarkanmu.”
Aku terdiam dan berfikir..
“Allah berfirman: wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “hendaklah mereka menutupi jilbabnya keseluruh tubuh mereka”yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan maha pengampun, maha penyayang.”   Mama menjelaskan
“ma..ma..” aku peluk mama terasa aku adalah wanita yang paling berdosa.

Fikiranku melayang terasa ada sesuatu hal yang mengganjal dihatiku dan otakku.
Tak tau mengapa ingin sekali aku mencari baju muslimku dulu bekas aku pakai di hari raya idul fitri.
Aku lihat wajahku dicermin, terlihat baju lengan panjang lengkap dengan kerudung menutupi tubuhku, dan aku merasa lebih cantik dari biasanya.
Mama tersenyum lebar saat aku keluar dari kamar untuk berangkat kuliah.
“Mama, Clara berangkat dulu ya.”
“asalamualaikum” aku cium tangan mama
“Iya sayang, wa’alaikumsalam.”

Kakiku melangkah lebih cepat seraya tak sabar menemui laki-laki yang sudah berjasa menyadarkanku.
“Ferdi.” Sapaku memotong obrolannya.
“Clara”
Tak seperti kejadian di caffe kemarin yang hanya melirikku kali ini ia tersipu melihatku.
“Kamu cantik sekali.” Pujian Ferdi
Aku hanya tersenyum malu.
“Sob, gue pergi dulu ea.” Salah seorang teman ferdi pergi.

“fer makasih sudah menyadarkanku” suara lirih keluar dari bibirku
Ferdi tersenyum
“aku cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu. Aku ingin menjagamu”
“tapi mengapa kemarin kamu bersikap seperti itu?” tanyaku heran
“aku ingin kamu menyadari, aku bukan cinta dengan kecantikanmu tapi aku cinta dengan hatimu.”
“jadi kita nggak putus.?”
“untuk saat ini kita berteman saja tapi setelah lulus aku akan datang kerumahmu untuk melamarmu.” Ferdi meyakinkan
 Kini aku menyadari arti sebuah cinta.. cinta tak sekedar memiliki tak sekedar rasa tak sekedar kata ataupun apalah orang mengatakan tapi bagiku cinta adalah perubahan untuk menjadi lebih baik. Saling menjaga , saling menghormati dan saling memahami.
Cinta tak harus diaplikasi dalam bentuk perbuatan ataupun perkataan yang pasti cintalah yang mampu membawaku menuju jalan yang lebih baik.
Meskipun hanya setangkai bunga cinta yang ia berikan padaku tapi berjuta perubahan ia bawa untukku.
 “Terimah kasih cinta”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar