Menciptakan SDM Berbasis Keahlihan
dan Pola Pikir Kreatif
dalam Menghadpi ASEAN Ecomonic
Community
Rani Dwi Putri
Universitas
Gadjah Mada
The
ASEAN Economic Community atau Masyrakat Ekonomi ASEAN adalah sebuah sistem
pasar bebas di mana sepuluh negara akan bersama-sama dalam membangun ekomoni
bersama tentunya kearah yang lebih baik. Dalam sistem ini negara-negara yang
tergabung dalam negara ASEAN akan melaksanakan sistem pasar bebas di mana pada
tahun 2015 ini kita akan dibawa dalam persaingan bebas dengan negara-negara
ASEAN. Pada tahun 2015 ini kita tidak hanya bersaingan baik dalam bentuk usaha
atau peluang lapangan kerja dengan warga Indonesia tapi juga warga negara asing
yaitu warga yang tergabung dalam negara
ASEAN.
Sudah
jelas ini akan membawa peluang sekaligus tantangan bagi negara-negara anggota
tak terkecuali Indonesia. Akan tetapi, dalam kenyataan yang ada, ini akan
menjadi masalah bagi negara kita. Seperti kita ketahui Indonesia negara yang
sangat kaya akan sumber daya alamnya akan tetapi, ini tidak diimbangi dengan
besarnya kualitas sumber daya manusia yang tinggi.
Inilah
salah satu masalah dari berjuta persoalan yang negara kita hadapi. Jumlah sumber
daya manusia kita memang termasuk tinggi, persoalannya adalah kualitas sumber
daya manusianya yang relatif rendah. Keadaan ini juga akan berdampak pada
banyaknya penggangguran karena masyarakat Indonesia sebagian besar hanya
mengandalkan lapangan pekerjaan yang disediakan pemerintah ataupun pihak swasta
sedangkan lapangan pekerjaan yang ada tak sebanding dengan jumlah masyarakanya.
Sehingga peningkatan pengangguran tak bisa dihindari lagi. Ini terkait juga
pada rendahnya masyarakat dalam berwirausaha tanpa mengandalkan lapangan
pekerjaan yang ada.
Rendahnya
wirausaha di Indonesia ini terkait dengan rendahnya kualitas sumber daya
manusia berbasis keahlihan. Dasar untuk menciptakan sebuah usaha atau karya
pasti diperlukannya sebuah keahlihan,
Menurut
Kamus Bahasa Indonesia (2014), keahlihan diartikan sebagai kemahiran dalam suatu
ilmu baik itu ilmu pengetahuan maupun bidang pekerjaan. Seperti keahlihan dalam ilmu kimia ataupun dalam
bidang kuliner. Ini nantinya akan menjadi modal masyarakat dalam menghadapi
dunia kerja agar tidak bergantung pada lapangan pekerjaan yang telah disediakan.
Selain
keahlihan, kesadaran dalam berkarya atau berwirausaha harus punya pola pikir
yang lebih maju dalam artian pola pikir yang kreatif yang mampu bersaing di
dunia pasar baik naisional bahkan internasional. Apalagi dalam menghadapi ASEAN
Economic Community.
Dua
basis inilah yang akan saya bahas secara mendalam dalam menciptakan sumber daya
manusia yang berkualitas.
Indonesia
memang termasuk negara terluas di negara-negara yang tergabung dalam ASEAN.
Jumlah penduduk Indonesia termasuk banyak, menurut Badan Pusat Statistik jumlah
penduduk Indonesia pada tahun 2010 mencapai 237.641.326 orang. Ditambah lagi
usia produktif di Indonesia lebih unggul dibandingkan dengan negara ASEAN
lainnya. Menurut Armida selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (dalam
Tempo.Co, 2014) menyebutkan bahwa perbandingan jumlah penduduk memasuki usia
produktif indonesia dengan Negara ASEAN lainnya adalah 38:100 ini artinya
setiap seratus penduduk ASEAN terdapat tiga puluh delapan penduduk usia
produktif. Dan sumber daya alamnya pun melimbah ruah.
Dalam menghadapi
masyarakat ekonomi ASEAN, Indonesia seharusnya menjadi negara yang paling siap
dalam menghadapi pasar bebas tersebut. Karena dengan segala modalnya Indonesia
mampu memanfaatkan kesempatan ini. Akan tetapi, dalam kenyataannya Indonesia
dalam hal sumber daya manusia belum sepenuhnya siap meskipun jumlah penduduk
usia produktifnya lebih unggul dari yang lainnya. Sebarapa banyak pun jumlah
penduduk usia produktif belum tentu
membantu jika kualitas sumber manusianya rendah.
Sumber
daya manusia adalah faktor terpenting dalam pertumbuhan ekomoni karena
manusia-manusia inilah yang akan menjalankan sistem dan mengelolah modal
seperti sumber daya alam yang ada. Jumlah sumber daya manusia memang sangat
tinggi akan tetapi, apalah arti sebuah kuantitas tanpa diimbangi dengan
kualitas yang ada.
Kualitas
inilah yang akan membawa indonesia dalam ekonomi yang akan semakin meningkat.
kualitas sumber daya manusia yang tinggi akan membawa masyarakat juga ke dalam
sebuah kemandirian ekonomi. Artinya dengan tingginya kualitas sumber daya
manusia diharapkan masyrakat indonesia mampu menciptakan ruang ekonomi sendiri
tanpa mengandalkan peran pemerintah dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan.
Sumber Daya Manusia Berbasis Keahlihan
Kualitas
sumber daya sangatlah penting apalagi ini terkait dengan manusia yaitu aktor utama yang akan menjalankan semua ini.
Untuk meningkatkkan ataupun menciptakan kualitas sumber daya manusia yang
tinggi perlunya arah atau basis seperti apa kualitas yang dimaksud. Arah ini
juga akan memudahkan pemerintah dalam mengambil sikap terkait dengan kebijakan
yang akan dibuat guna peningkatan kualitas sumber daya menusia.
Seperti
kita ketahui bagaimana sistem pendidikan di Indonesia saat ini di mana sekolah
menengah di bagi menjadi beberapa tipe yaitu Sekolah Menengah Atas baik negeri maupun swasta di mana sistemnya
berbasis sekolah umum, Sekolah Menengah Kejuruan di mana sistemnya perbasis
kejuruan yaitu siswanya diarahkan pada satu bidang dan dipersiapkan untuk
langsung masuk dalam dunia kerja, selanjutnya Madrasah Aliyah yaitu sekolah
yang berbasis pendidikan agama dan pendidikan umum lainya.
Masalahnya
adalah tingkat sekolah menengah atas kurang mengarahkan pada bidang-bidang
tertentu. Hanya pada tingkat Sekolah Menengah Kejuruan yang mempunyai program khusus
untuk siswanya. Dalam Sekolah Menengah Kejuruan siswa sudah dituntut untuk
menguasai satu bidang tertentu, misalnya menjahit, akuntansi dan lain
sebagainya. Ini artinya siswa sudah dipersiapkan untuk keluar sebagai manusia
yang punya keahlihan tertentu.
Sedangkan
Sekolah Menengah Atas yang umum, siswa hanya diarahkan pada bidang ilmu umum
seperti ilmu pengetahuan alam atau IPA, ilmu pengetahuan sosial atau IPS. Yang
menjadi persoalan adalah siswa tidak menguasai atau menekuni salah satu ilmu yang menjadi bagian dari bidang ilmu
tertentu. Memang benar Sekolah Menengah Atas disiapkan menjadi siswa yang akan
melanjutkan ke perguruan tinggi. Akan tetapi, pada kenyataannya banyak lulusan
SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dengan berbagai alasan. Sehingga pihak sekolah atau bahkan
pemerintah harus bisa membekali siswa tidak hanya ilmu pengetahuan tapi satu
keahlihan khusus. Misal siswa minat dalam bidang ilmu kimia, guru harus
menjebatani siswanya bagaimana memanfaatkan ilmu kimia digunakan untuk menghasilkan
sesuatu yang bernilai ekonomi. Sekalipun siswa beminat dalam bidang
masak-memasak guru atau pihak sekolah juga harus mampu menjembatani.
Tentu
hal tersebut harus ada sebuah wadah yang mampu menampung minat bakat yang
nantinya akan dijadikan sebuah keahlihan. Sehingga siswa yang keluar atau lulus
dari sekolah baik dari sekolah umum maupun kejuruan punya modal dan bekal dalam
menghadapi dunia kerja. Dengan keahlihan tersebut pula siswa yang sudah lulus
dari sekolah dan tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi tidak teralu
mengandalkan lapangan pekerjaan yang ada.
Persoalan
selanjutnya adalah bagaimana jika orang yang tidak bersekolah atau tidak bisa
melanjutkan ke tingkat SMA? pemerintah juga tidak boleh melupan orang-orang
yang putus sekolah ataupun orang tidak sekolah. Tentu mereka juga merupakan
sumber daya manusia yang ada di Indonesia. Tingkat pengangguran penduduk yang
tidak sekolah dan tidak bisa melanjutkan
ke tingkat SMA juga tak relatif banyak. Menurut Badan Pusat Statistika
(2014) tingkat pengangguran penduduk
tamat sekolah dasar mencapai 3,69 persen dan tingkat pengangguran tamatan
sekolah menengah bawah mencapai 7,44 persen meskopun jumlah ini kalah banyak
dengan tingkat pengangguran tamatan Sekolah Menengah Atas yang mencapai 9,10 persen.
Di
sini pemerintah juga harus menyediakan wadah untuk mereka dalam mengembangkan
dan menciptakan keahlihan-keahlihan khusus. Seperti pengajaran pada remaja
putus sekolah atau ibu-ibu rumah tangga baik itu dalam bentuk pengajaran
menjahit, memasak yang tentunya bernilai ekonomi dan nantinya bisa menjadi
modal keahlihan dalam berwirausaha. Dan kalau perlu pemerintah wajib
menciptakan wadah atau lembaga resmi khusus untuk mengembangan dan menciptakan
bakat, minat yang diarahkan sebagai sebuah keahlihan.
Keahlihan
memang salah satu basis yang penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya
manusia. Akan tetapi, keahlihan yang ada
dan dimiliki tentu tidak akan menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi jika
tidak diimbangi denagn pola piker maju dalam artian pola pikir yang kreatif
yang mampu mengeksporasi keahlihan dan dijadikan lahan ekonomi yang mampu
bersaing di pasar nasional atau bahkan internasional.
Membentuk Pola Pikir Kreatif
Keahlihan memang penting dalam
meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengarahkan masyrakat pada
ekonomi mandiri. Akan tetapi, keahlihan juga tidak begitu saja berjalan sendiri
tentu perlu tambahan modal dalam membangun masyarakat yang mandiri dalam
ekonominya. Suatu keahlihan bukan hanya dimiliki satu, dua orang tapi
berpuluh-puluh bahkan berjuta orang apalagi kita dalam menghadapi ASEAN Economy
Community, tentu saja akan lebih banyak lagi kesaman keahlihan dan persaingan
usaha yang bermodalkan keahlihan tersebut. Apalagi banyak kasus juga orang yang
punya keahlihan tidak memanfaatkan dan mengembangkan keahlihan tersebut untuk
lahan usaha atau berwirausaha.
Seperti contoh saja, Sekolah
Menengah Kejuruan di mana siswanya dituntut dalam satu bidang keahlihan, misal akuntansi, kecantikan, memasak, dan lain
sebagainya. Tentu mereka sudah dibekali keahlihan tertentu sesuai minat dan
bakatnya. Akan tetapi, pada kenyataannya siswa lulusan SMK juga banyak yang
menjadi pengannguran. Seperti yang telah di sampaikan oleh Rizali Ritongah selaku
Derektur Kependudukan dan Ketenagakerjaan (dalam Republika, 2014) bahwa pengangguran
tingkat SMK mencapai 11,19 persen dari total 127.710 orang. Ini membuktikan
keahlihan juga tidak menjamin masyarakat mampu menciptakan ekonomi mandiri.
Maka dari itu, tentulah diperlukan
pola pikir kreatif sehingga bagaimana kita bisa memanfaatkan keahlihan sebagai
lahan ekonomi kita. Apalagi dalam menyambut AEC 2015 ini tentu kita tidak hanya
dituntut hanya sekadar punya keahlihan tapi punya pola pikir kreatif sehingga
dapat membedakan kita dengan keahlihan yang dimiliki oleh orang lain. Misalnya
saja, seseorang yang mempunyai keahlihan memasak tentu bukan satu orang yang
punya keahlihan ini dan mau memanfaatkan keahlihan ini. Pola pikir kreatif
inilah yang akan memanfaatkan keahlihan yang sederhana mampu menjadi lading
ekonomi.
Pola pikir juga tak berhenti pada
bagaimana kita memanfaatkan keahlihan menjadi lading ekonomi tapi bagaimana
usaha kita berbeda dengan usaha lain dan mampu bersaing di ranah internasional.
Pola pikir maju inilah yang jarang ditumbuhkan oleh pemerintah dan masyarakat
pun enggan untuk melatih dan mendapatkannya.
Tentu saja, semua ini pemerintahlah
yang harus memfasilitasi baik itu dalam bentuk menyediakan wadah pelatihan,
sosialisai, pengajaran, dan tentu saja modal berupa dana untuk memulai usaha
yang akan diciptakan
Keahlihan dan pola pikir kreatif
dalah satu kesatuan yang akan menciptakan masyarakat pada kemandirian ekonomi.
Sehingga untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia yang tinggi dibutuhkan
keahlihan dan pola pikir kreatif yang nanti akan dapat bersaing dalam ASEAN
Economy Community atau bahkan ke ranah internasional.
DAFTAR
PUSTAKA
http://www.bps.go.id/brs_file/naker_05mei14.pdf
. 2014. Keadaan Ketenagakerjaan Februari
2014. No. 38/05/Th. XVI diakses pada tanggal 10 Desember 2014.
http://www.tempo.co/read/news/2014/03/27/090565711
. 2014. Penduduk Usia Produktif di Indonesia Paling Unggul dari Negara ASEAN.
Diakses pada tanggal 9 desember 2014.
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=12
. 2010 . diakses pada tanggal 9 Desember 2014.
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/13/11/06/mvtxnt.
2013. Lulusan SMK Mendominasi
Pengangguran. Diakses pada tanggal 10 Desember 2014.





