Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Container Icon

Dominasi Organisasi Masyarakat berbasis Islam dalam Ranah Politik Kekuasaan

Dominasi Organisasi Masyarakat berbasis Islam dalam Ranah Politik Kekuasaan
Rani Dwi Putri
Universitas Gadjah Mada
A.          Pendahuluan
Organisasi Masyarakat adalah salah satu dari sekian kelompok sosial yang berkembang di Indonesia. Dalam pratiknya, organisasi masyarakat yang berbasis agama cenderung banyak dan terus berkembang, terutama agama islam. Banyak diantaranya ormas-ormas yang sukses berkembang dengan terus bertambahnya anggota, misalnya Muhammadiyah, Nadatul Ulama, Forum Umat Islma, dan Front Pembela Islam. Dari beberapa ormas-ormas islam yang perkembangannya cukup bagus, Front  Pembela Islam (FPI) dan Farum Umat Islam (FUI) yang merupakan organisasi yang cukup menarik untuk dibahas dan dikulas tentang sepak terjangnya terurama dalam ranah politik dan segala konflik-konflik yang menyertai perjalanannya. Kedua organisasi masyarakat tersebut memang sering membuat kontroversi mulai dari hal besar sampai hal yang kecil pun banyak dipermasalahkan oleh kedua organisasi tersebut.
Dalam sejarahnya, Front Pembela Islam merupakan organisasi yang dibentuk oleh pemerintah dan TNI/POLRI  pasca reformasi dan merupakan cikal balal dari Pam Swakarsa1. Awal pembentukan Pam Swakarsa bertujuan untuk mencegah konflik vertikal yang merupakan bentukan dari Panglima Abri Jendral Wiranto. Dari awal sejarah, pembentukan inilah, FBI seolah punya legitimasi untuk ikut berperan dalam ranah politik. Sedangkan, dalam sejarah Forum Umat Islam memang tidak banyak dibahas, meskipun begitu dalam sejarahnya FUI bukan bentukan dari TNI ataupun POLRI akan tetapi FUI juga sedikit banyak ikut perperan dalam ranah perpolitikan.
Dalam pandangan masyarakat awan, Front Pembela Islam dan Forum Umat Islam memang dua dari beberapa ormas islam yang cukup frontal dalam setiap aksinya. Sehingga, banyak masyarakat yang memandang sebelah mata dua organisasi tersebut, sekalipun masyarakatnya  muslim. Pandangan masyarakat memang sangat beralasan dengan segala bukti aksi anarkis dan aksi uniknya mulai dari demo dengan merusak sarana umum sampai aksi uniknya dengan membuat gubernur tandingan di Jakarta. Terlepas dari aksi anarkis dan uniknya FUI maupun FPI adalah organisasi yang mengusung nafas-nafas islam dalam setiap tindakannya meskipun terkadang terlihat tidak sesuai akan tetapi, kedua ormas tersebut banyak juga melakukan hal-hal positif mulai dari bakti sosial hingga kegiatan keagamaan lainnya.
Di ranah politik sekalipun FUI dan FPI sering berperan aktif , meskipun bukan anggota aktif dalam legislatif maupun eksekutif. Akan tetapi, mereka aktif dalam mengkritik kinerja pemerintah yang mereka anggap tidak sesuai dengan kaidah islam dan merugikan rakyat. Peran aktif tersebutlah ormas-ormas tersebut seolah punya ruang tersendiri dalam ranah politik negeri ini, terutama Front Pembela Islam atau FPI dengan berbekal sejarahnya tersebut.
Berangkat dari sinilah penulis tertarik untuk membahas lebih dalam tentang peran dan aksi ormas-ormas islam lebih khususnya Front Pembela Islam dan Forum Umat Islam dalam ranah politik. Penulis menggunakan motede penulisan dengan menyajikan contoh kasus dan dianalis dengan menggunakan pendekatan kekerasan strukturan, dan simbolik
B.          Pembahasan
Aksi-aksi yang dilakukan FUI maupun FPI memang sangat menarik untuk dibahas dari aksi demonya hingga aksi-aksi unik lainnya. Baru-baru ini saja, FUI membuat geger para mahasiswa Yogyakarta dengan aksi pembubaran paksa pemutaran film Senyap. Dalam film tersebut membahas tentang sejarah pembunuhan masal anggota PKI sekitar tahun 1965 dengan menampilkan dialog para keluarga korban dengan pihak pembunuh PKI. Dengan alasan itulah, FUI merasa film tersebut tidak layak untuk dipertontonkan dan akan hanya menumbuhkan bibit komunisme dikemudian hari. Seperti yang dilansir dalam potongan berita Tempo.co  berikut,
TEMPO.CO, Yogyakarta - Acara nonton bareng film Senyap karya Joshua Oppenheimer di kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada (UGM) digeruduk 20-an orang pada Rabu malam, 17 Desember 2014. Mayoritas dari mereka mengenakan helm dan penutup muka saat memasuki halaman dalam kampus Fisipol UGM. Massa ini datang sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, acara nonton bareng film Senyap yang dimulai sekitar pukul 18.30 WIB baru saja selesai. Pemutaran itu sebenarnya baru sesi pertama. Karena pengunjung membeludak, pemutaran film di pelataran Gedung BG Fisipol UGM rencananya diputar dalam dua kali sesi. Namun rencana tersebut batal. Massa berusaha mendekati lokasi pemutaran film sambil berteriak "Allahu Akbar" beberapa kali. Namun sejumlah polisi berseragam preman dan petugas keamanan UGM mencegah mereka.
Dalam berita terlihat jelas bagaimana aksi yang dilakukan oleh FUI yang memaksa pembubaran pemutaran film Senyap. Padahal jika ditelusuri Komnas HAM juga mendukung pemutaran film tersebut dengan mengeluarkan surat bernomor 044/Ang-SK/XI/2014 yang ditandatangani komisioner Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan Komnas HAM, Muhammad Nukhoiron2. Lagi pula, pemutaran-pemutaran yang diadakan di beberapa universitas bertujuan untuk kebutuhan akademik yaitu untuk didiskusikan dan tidak ada tujuan selain itu. Sehingga banyak pihak terutama para mahasiswa yang kecewa terhadap sikap FUI yang seolah seenaknya membubarkan acara pemutaran dan diskusi film Senyap. Karena sikap FUI tersebut telah mengganggu aktifitas belajar mahasiswa dan hak mahasiswa untuk mengetahui sisi lain sejarah. Seharusnya, FUI tidak berhak untuk membubarkan acara pemutaran dan diskusi tersebut mengingat tempat pemutaran dilakukan di area kampus, di mana tempat para mahasiswa berhak mengetahui segala hal. Sehingga bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukan FUI tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang ada.
            Selain aksi FUI tersebut, aksi yang dilakukan FPI juga tak kalah menarik. Salah satu kasus yang hampir serupa adalah saat FPI membubarkan waria di Depok pada tahun 2010 silam. Seperti yang dilansir dalam potongan berita New.detik.com  berikut,
Jakarta - Para "wanita" berambut panjang sontak berlarian. Beberapa di antara mereka tak sempat mengemasi barang-barangnya. Semuanya jejeritan ketakutan sembari keluar ruangan. Itulah pemandangan saat para waria yang mengenakan seragam warna merah tiba-tiba digeruduk oleh belasan anggota FPI, di sebuah ruangan di Hotel Bumi Wiyata, Jl Margonda Raya, Depok, Jawa Barat. Peristiwa ini terjadi pukul 10.15 WIB, Jumat (30/4/2010). Massa dengan emosi memukul-mukul meja dengan kayu panjang yang mereka bawa. Aksi itu merupakan bentuk protes mereka pada seminar yang diikuti para waria berbusana layaknya perempuan itu. Massa FPI membubarkan acara itu karena menduga acara itu akan menampilkan kontes pakaian seksi. Mereka sempat memukul sejumlah polisi yang mencoba menenangkan."Mereka menduga ada kontes, padahal kenyataannya tidak ada kontes. Pikirannya kalau kontes menampilkan pakaian seksi," kata Kasat Reskrim Polres Depok Kompol Ade Rahmat kepada detikcom, Jumat (30/4/2010).                                                                                                         
Dalam berita tersebut telah disebutkan bagaimana aksi FPI membubarkan acara seminar waria secara paksa. Tindakan tersebut tentulah menyalahi aturan yang ada, di mana mereka membubarkan acara tersebut secara paksa dan diikuti dengan aksi kekerasan. Di situ juga dijelaskan FPI seolah bertindak seenaknya tanpa konfirmasi dengan pihak yang bersangkutan. Mereka hanya bermodalkan dugaan tanpa dipastikan dengan jelas tapi tetap bertindak dengan membubarkan acara tersebut dan merusak fasilitas di sekitar tempat tersebut. Salah satu bukti tersebutlah mengapa FPI selalu dikenal sebagai ormas yang selalu arogan dan mengandalkan kekerasan dengan merusak fasilitas.
C.   Analisis
Dari dua kasus tersebut, bisa dilihat bagaimana peran ormas-ormas barbasis agama dalam ranah politik khususnya dari segi kekuasaan mereka dalam menentukan sikap.  Seperti yang dikatakan Jack H Nagel (dalam Miriam, 2008) tentang scope of power atau cakupan kekuasaan yang merujuk pada kegiatan, perilaku, serta sikap dan keputusan-keputusan yang menjadi obyek dari kekuasaan.  Dalam masalah ini, FPI dan FUI kekuasaannya mencakup pada perilaku serta sikapnya dengan seenaknya membubarkan suatu acara yang memang sudah mengatongi perizinan. Tindakan yang dilakukan FPI maupun FUI dengan aksi pembubaran paksa tersebut, seolah menandakan kedua ormas tersebut punya kekuasaan dalam menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilihat maupun dilakukan oleh kelompok tertentu. Padahal jika dilihat dari obyek yang dilarang tersebut tidak melanggar hukum dan ketentuan yang ada. Selain itu, ormas-ormas ini juga seolah punya hukum dan parameter sendiri dalam menentukan sesuatu sehingga yang tidak sesuai, mereka langsung bertindak untuk menghentikannya.
Jika dilihat dengan menggunakan pendekatan kekerasan tindakan FPI maupun FUI telah melakukan kekerasan simbolik, dan struktural. Pengertian kekerasan sendiri merupakan suatu tindakan yang menyakiti, melukai serta menghalangi baik dalam bentuk fisik, psikis, maupun akses dalam melakukan sesuatu.
Sedangkan dalam tindakan yang dilakukan FUI dan FPI mengandung kekerasan simbolik. Dalam pengertiannya kekerasan simbolik merupakan suatu bentuk kekerasan yang bukan berupa fisik tapi berupa tanda, simbol, atau makna-makna tertentu. Kasus diatas sudah dijelaskan bagaimana tindakan FUI dan FPI melakukan pembubaran acara secara paksa. Dalam kasus FPI  yang melakukan pembubaran paksa seminar waria di Depok, menandakan bahwa FPI secara tidak langsung melakukan suatu stereotip terhadap kalangan waria bahwa mereka identik dengan hal-hal yang berbau porno aksi. Selain itu, FUI dan FPI merupakan organisasi masyarakat yang membawa nama agama islam sehingga mereka membawa ajaran islam dalam organisasinya. Dengan segala tindakannya yang kurang mencerminkan ajaran-ajaran islam yang sesungguhnya, ini secara tidak langsung menimbulkan labeling kalau ormas islam pasti identik dengan kekerasan. Dan juga akan berdampak buruk pula pada citra agama islam yang selalu mengusung perdamaian. Kemudian, dalam setiap aksinya FUI maupun FPI selalu menyuarakan secara lantang nama-nama Tuhan seperti Allahu Akbar  ini juga merupakan suatu bentuk kekerasan di mana nama Tuhan yang seharusnya disuarakan dalam hal kebaikan tanpa kekerasan dan arogansi. Ini juga akan menimbulkan suatu citra buruk dan penyalahgunaan nama Tuhan untuk menutupi bentuk arogansinya. Dengan kata lain, seoalah mereka menggunakan nama Tuhan untuk dijadikan alat untuk menutupi arogansi dan untuk membenarkan aksinya.
Tak hanya itu, aksi dan tindakan FUI maupun FPI juga mengandung kekerasan struktural. Secara pengertian, kekerasan struktural merupakan suatu bentuk kekerasan di mana terdapat ketidakadilan  dalam penggunaan sarana prasarana atau ketidakmampuan dalam akses sarana yang disebabkan oleh suatu kebijakan sistem. Dalam hal ini, tindakan FUI dan FPI berupa larangan diselenggarakannya seminar maupun kontes waria dan larangan pemutaran film senyap ini juga mengandung kekerasan struktural.di mana FUI maupun FPI telah membatasi hak setiap warga untuk melakukan dan mengetahui  suatu hal dan itu tidak melarang hukum dan ketentuan yang ada. Pelarangan tersebut akan berdampak pada penghambatan masyarakat dalam berkarya dalam hal ini mahasiswa dan kelompok waria. Penghambatan dalam berkarya di sini berupa karya dalam bentuk gagasan, prestasi, maupun dalam bentuk ide. Seperti kita ketahui, larangan pemutaran film dan diskusi film senyap ini bisa menghambat proses mahasiswa dalam berajar beragrumen atau menganalisis suatu masalah atau bahkan menghambat pengetahuan mereka dalam hal sejarah.
D.     Penutup
Organisasi masyarakat berbasis islam memang sangat berkembang dalam negeri ini, kehadiran mereka sedikit banyak mempengaruh dunia politik kekuasaan. Dalam hal ini FUI dan FPI telah berhasil mendapatkan itu, tindakan-tindakan yang mereka lakukan seolah mereka punya ruang dalam menentukan sesuatu. Tindakan-tindakan tersebut banyak juga yang pada akhirnya merugikan masyarakat maupun kelompok tertentu. Tak kadang juga, tindakan tersebut mengandung kekerasan tak hanya berupa fisik tapi kekerasan simbolik maupun struktural.  Dan pada akhirnya menghambat akses suatu kelompok tertentu.
Daftar Pustaka
Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
1 http://www.islamtoleran.com .2014. Sejarah da nasal muasal FPI Front Pembela Islam  atau Front Polisi Islam. Diakses pada tanggal 03 Januari 2014.
2 http://brita.indo.com . 2014. Komnas HAM Mendukung Pemutaran Film Senyap. Diakses           pada tanggal 04 Januari 2015.
http://www.tempo.co/read/news/ . 2014. Massa Serbu Pemutaran Film Senyap Di UGM.  Diakses pada tanggal 04 Januari 2015.
http://news.detik.com/read . 2010. Seminar Waria Di Depok Digeruduk Massa FPI. Diakses         pada tanggal 04 Januari 2015.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menumbuhkan Kesadaran Diri Tanpa Menunggu Lambatnya Uluran Tangan Pemerintah.

Memang, masih banyak masalah yang kita hadapi untuk membangun negara lebih baik lagi. Kecacatan-kecacatan Indonesia, masalah-masalah lama yang tak kunjung usia sedikit banyak kitalah khususnya sebagai generasi muda yang akan memberbaikinya. Terutama kita sebagai mahasiswa dipercaya untuk menikmati pendidikan yang lebih tinggi. Tentu bukan kita sebagai mahasiswa saja yang harus bertanggungjawab atas kecacacatan dan masalah negari ini. Tetapi, kita semua sebagai warga negara yang akan menyelesaikan dan menyempurnakan negara ini. Membangun Indonesia untuk lebih baik lagi tentu bukan perkara mudah dan singkat, disaat negara kita masih banyak masalah yang berjejer untuk segera diselesaikan.
Indonesia dibangun tentu saja bertujuan untuk memberikan rasa sejahtera, aman, tentram, dan nyaman untuk semua warga negaranya. Indonesia tercipta tentu saja diikuti pula dengan terciptanya peraturan-peraturan yang mengatur warga negaranya untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Tak banyak dari kita yang mengabaikan hal tersebut, kita selalu menuntut kesejahteraan, keamanan, kenyamanan pada negeri ini. Tetapi hal tersebut  diikuti dengan selalu mengabaikan peraturan-peraturan yang sudah dibuat untuk kita dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut. Singkatnya, kita selalu menuntut pemerintah untuk terus bertindak, tapi kita sendiri masih terus diam.
Banyak masalah sepele, tetapi pada akhirnya menjadi masalah besar dan itu masih disebabkan oleh sikap diam kita terhadap peraturan yang telah dibuat. Misalnya saja, masalah kemacetan yang banyak terjadi di kota-kota besar, salah satu penyebabnya adalah kita sendiri yang kadang tidak mematuhi peraturan yang ada. Pemerintah sudah memberikan peraturan tentang rambu lalu lintas yang bertujuan untuk menertertibkan kita, pemerintah telah mencanangkan untuk pengurangan kendaraan pribadi di jalan dan beralih ke  kendaraan umum dengan dalih mengurangi kemacetan. Apakah kita sudah menaatinya? Masih banyak dari kita yang mengabaikan hal tersebut. Meskipun perlu diakui jika pemerintah kita, memang selalu memberikan wacana dan peraturan tanpa diimbangi dengan fasilitas dan sarana yang baik untuk menjalankan peraturan tersebut. Tetapi apakah kita terus menunggu dan menunggu hal itu? tentu tidak.
Kesadaran diri tentu sangat dibutuhkan untuk sedikit menyelesaikan masalah yang telah terjadi dan akan terjadi. Jika kita terus menunggu dan menggantungkan masalah tersebut pada pemerintah tentu masalah itu takkan perna usai. Bayangkan saja, jika kita semua punya kesadaran diri tanpa mendahulukan egoisitas, tentu negara kita akan sangat terasa tentran dan nyaman. Tidak ada rasa saling menyalahkan dan disalahkan atas mesalah yang terjadi, tapi adanya kesadaran diri untuk menyelesaikan masalah tersebut. Misalnya saja masalah kemacetan, jika semua orang punya kesadaran diri untuk menaati rambu lalu lintas dan mengurangi kendaraan pribadi untuk beralih ke kendaraan umum tentu kemacetan akan terselesaikan. Masalah banjir, lingkungan yang rusak, maupun masalah air tercemar jika kita semua punya kesadaran diri untuk tidak membuang sampah sembarangan seperti di sungai tentu masalah-masalah tersebut sedikitnya akan terselesaikan. Tanpa menunggu tindakan pemeritah dan terus menuntut pemerintah untuk menyelesaikan hal tersebut.
Masalah yang terjadi banyak ditimbulkan oleh kurangnya kesadaran diri dan besarnya egoisitas. Jika setiap warga negara Indonesia mempunyai kesadaran diri tentu dari kesadaran diri akan menjadi kesadaran kolektif yang dijunjung tinggi oleh semuanya. Singkat kata, untuk menjadi warga negara yang baik adalah selalu menumbuhkan kesadaran diri, berawal dari kita dan untuk kita semua.


Memang, masih banyak masalah yang kita hadapi untuk membangun negara lebih baik lagi. Kecacatan-kecacatan Indonesia, masalah-masalah lama yang tak kunjung usia sedikit banyak kitalah khususnya sebagai generasi muda yang akan memberbaikinya. Terutama kita sebagai mahasiswa dipercaya untuk menikmati pendidikan yang lebih tinggi. Tentu bukan kita sebagai mahasiswa saja yang harus bertanggungjawab atas kecacacatan dan masalah negari ini. Tetapi, kita semua sebagai warga negara yang akan menyelesaikan dan menyempurnakan negara ini. Membangun Indonesia untuk lebih baik lagi tentu bukan perkara mudah dan singkat, disaat negara kita masih banyak masalah yang berjejer untuk segera diselesaikan.
Indonesia dibangun tentu saja bertujuan untuk memberikan rasa sejahtera, aman, tentram, dan nyaman untuk semua warga negaranya. Indonesia tercipta tentu saja diikuti pula dengan terciptanya peraturan-peraturan yang mengatur warga negaranya untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Tak banyak dari kita yang mengabaikan hal tersebut, kita selalu menuntut kesejahteraan, keamanan, kenyamanan pada negeri ini. Tetapi hal tersebut  diikuti dengan selalu mengabaikan peraturan-peraturan yang sudah dibuat untuk kita dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut. Singkatnya, kita selalu menuntut pemerintah untuk terus bertindak, tapi kita sendiri masih terus diam.
Banyak masalah sepele, tetapi pada akhirnya menjadi masalah besar dan itu masih disebabkan oleh sikap diam kita terhadap peraturan yang telah dibuat. Misalnya saja, masalah kemacetan yang banyak terjadi di kota-kota besar, salah satu penyebabnya adalah kita sendiri yang kadang tidak mematuhi peraturan yang ada. Pemerintah sudah memberikan peraturan tentang rambu lalu lintas yang bertujuan untuk menertertibkan kita, pemerintah telah mencanangkan untuk pengurangan kendaraan pribadi di jalan dan beralih ke  kendaraan umum dengan dalih mengurangi kemacetan. Apakah kita sudah menaatinya? Masih banyak dari kita yang mengabaikan hal tersebut. Meskipun perlu diakui jika pemerintah kita, memang selalu memberikan wacana dan peraturan tanpa diimbangi dengan fasilitas dan sarana yang baik untuk menjalankan peraturan tersebut. Tetapi apakah kita terus menunggu dan menunggu hal itu? tentu tidak.
Kesadaran diri tentu sangat dibutuhkan untuk sedikit menyelesaikan masalah yang telah terjadi dan akan terjadi. Jika kita terus menunggu dan menggantungkan masalah tersebut pada pemerintah tentu masalah itu takkan perna usai. Bayangkan saja, jika kita semua punya kesadaran diri tanpa mendahulukan egoisitas, tentu negara kita akan sangat terasa tentran dan nyaman. Tidak ada rasa saling menyalahkan dan disalahkan atas mesalah yang terjadi, tapi adanya kesadaran diri untuk menyelesaikan masalah tersebut. Misalnya saja masalah kemacetan, jika semua orang punya kesadaran diri untuk menaati rambu lalu lintas dan mengurangi kendaraan pribadi untuk beralih ke kendaraan umum tentu kemacetan akan terselesaikan. Masalah banjir, lingkungan yang rusak, maupun masalah air tercemar jika kita semua punya kesadaran diri untuk tidak membuang sampah sembarangan seperti di sungai tentu masalah-masalah tersebut sedikitnya akan terselesaikan. Tanpa menunggu tindakan pemeritah dan terus menuntut pemerintah untuk menyelesaikan hal tersebut.
Masalah yang terjadi banyak ditimbulkan oleh kurangnya kesadaran diri dan besarnya egoisitas. Jika setiap warga negara Indonesia mempunyai kesadaran diri tentu dari kesadaran diri akan menjadi kesadaran kolektif yang dijunjung tinggi oleh semuanya. Singkat kata, untuk menjadi warga negara yang baik adalah selalu menumbuhkan kesadaran diri, berawal dari kita dan untuk kita semua.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jenis Makanan Menujukkan Kelas Sosial Seseorang



Jenis Makanan Menujukkan Kelas Sosial Seseorang
Pada dasarnya makan adalah sebuah kebutuhan manusia untuk memenuhi energi dalam tubuhnya agar bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Jenis makanan juga menunjukkan seberapa besar nutrisi yang diberikan oleh makanan untuk tubuh. Biasanya seseorang memilih jenis makanan tertentu atas dasar pertimbangan apakah makanan tersebut sehat atau tidak atau juga makanan tersebut memenuhi standart nutrisi yang harus dipenuhi tubuh ataukah sebaliknya. Akan tetapi, jika di kulas secara dalam makanan juga mempunyai nilai sosial tersendiri. Dulu ada beberapa jenis makanan yang secara khusus hanya bisa dikonsumsi oleh seorang raja. Ini membuktikan bahwa makanan tersebut punya nilai tersendiri karena tidak semua orang bisa mengkonsumsinya. Di zaman sekarang ini juga tak kalah berbeda, jenis makanan yang dikonsumsi juga tidak hanya sekedar untuk mamenuhi kebutuhan nutrisi kita tapi juga memenuhi kebutuhan sosial seseorang. Banyak dari kita yang mengkonsumsi makanan hanya sekedar untuk menunjukkan kelas mereka. Misalnya saja, makanan seafood, pizza, atau makanan yang terbuat dari jamur matsutake yang harganya bisa jutaan rupiah, kadang makanan jenis-jenis ini hanya dikonsumsi untuk memenuhi kepuasan sosial mereka. Di kalangan tertentu jenis makanan ini dikonsumsi  hanya sekedar untuk menunjukkan kelas mereka. Biasanya makanan jenis tersebut hanya bisa di konsumsi oleh kalangan menengah atas, jarang atau bahkan tak ada golongan menengah bawah yang mengkonsumsi makanan yang harganya bisa mencapai satu juta rupiah untuk sekali makan. Jenis makanan seperti soto, pecel, dan jenis makanan lain yang banyak dijumpai di pinggir-pinggir jalan adalah makanan yang kebanyakan dikonsumsi oleh masyarakat pada golongan menengah ke bawah. Harganya yang murah dan mudah di jumpai membuat makanan jenis ini sangat digemari oleh masyarakat pada golongan menengah ke bawah. Oleh karena itu, makanan yang kita makan bukan hanya menunjukkan seberapa besar nutrisi yang terkandung di dalamnya tapi juga menunjukkan kelas sosial seseorang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Setangkai Bunga Cinta



Setangkai Bunga Cinta

Gelap mulai datang, bulan bintang mulai menghiasi langit yang mulai hitam, lampu-lampu pun tak kala memperlihatkan kemerlipnya.
Malam ini aku ada janji dengan kekasihku, ini memang bukan kali pertama aku dinner dengan cowok tapi entah mengapa hatiku deg-degan menanti terasa tak sabar ingin berjumpa dengannya.
Aku sibuk memoles wajahku agar terlihat cantik, tak ketinggalan aku balut tubuhku yang mungil dengan sebuah dress pink favoritku.
“Emmm perfect!!!!” batinku ketika aku lihat wajahku dicermin.
Terlintas bayangan saat pertama kali aku jadian dengannya, barawal dari ketidaksengajaan, ketika dia tak sengaja menabrakku cowok yang tak begitu tampan bahkan jauh dari kata keren ini mampu memikat hatiku, karismanya dan tatapan matanya bagai cahaya lilin yang menerangi kegelapan. Dan sejak itulah aku jatuh cinta padanya, ia pun merespon perasaanku dan kami resmi berpacaran.
“Sayang...” teriak mama memotong lamunanku.
“iya ma”
“Clara kamu mau kemana,kok rapi sekali”
“Ea mau dinner lah ma, masak mau ke pasar.”
“Memangnya dengan siapa?”
“Ea ama cowok aku lah, masak ma pak yamin supir kita.”
“Kamu tuh, ditanya orang tua jawabannya ngawur.”
“Habis mama sih, pertanyaannya nggak mutu.”
“Udah dulu ea ma, Clara pergi dulu, daaaa mama,, uummmuahhh” aku cium mama dan segera meninggalkan rumah.

Terlihat dari kejahuan cowok kurus,tinggi,putih berbalut kemeja putih sudah menanti kedatanganku, aku pun segera menghampirinya.
“Hei Ferdi” sapaku sambil duduk.
“Hai”
Ia hanya melirikku, tak sedikitpun ia terlihat terpesona denganku. Aku semakin heran padanya aku udah capek-capek dandan tapi ia tak melihat dan memujiku.
“Memang ada yang salah dengan penampilanku?” tanyaku
“Nggak, cantik kok tapi jika paha dan lenganmu tertutup.” Jelasnya dengan muka berpaling.
Aku hanya bisa diam memandangi seluruh tubuhku yang hampir semua terbuka,dress yang sangat mini tak mampu menutupi paha dan lenganku.
“Aku lebih menghargai wanita yang menutupi aurotnya, tubuhmu tidak untuk diperlihatkan tapi dijaga dengan baik.”
“Tapi aku ingin tampil cantik didepanmu.”
“Cantik bukan dari tubuhmu tapi dari hatimu.’ Dengan melemparkan senyum tipis.
Aku hanya merunduk malu.
“lebih baik kita berteman saja.”
“Kenapa???”
Dia hanya senyum dan meninggalkanku. Butiran-butiran air mata pun tak mampu terbendung cucuran air mata membasahi pipiku yang penuh make up, dinner yang aku dambakan yang aku bayangkan bakal romantis malah berakhir dengan duka dan sebuah penyesalan..
“Ma..ma..” teriakku dengan merengek nangis, aku hampiri mama yang asyik menonton tv diruang tengah.
“Iya sayang, ada apa kok nangis.?”
“Ferdi ma... putusin aku.”
“memangnya kenapa sayang.?”
Aku ceritakan semua kejadian dan perkataan ferdi tadi.
Mama hanya tersenyum tipis terasa ia paham maksud ferdi.
“Ferdi benar sayang.” Suara lembut mama sambil memeluk seraya menenangkan.
“Mama kok malah belain ferdi sih!.”
Mama tersenyum
“ sayang,,  mama nggak belain ferdi tapi mama membenarkan saja.”
Aku semakin bingung tak mengerti apa maksud semua ini.
“sayang, kita sebagai umat islam, umat nabi Muhammad diwajibkan untuk menutup aurot. Mama kan sudah sering bilang tapi kamu tak perna mendengarkan.. ferdi adalah laki-laki yang baik dia berniat menyadarkanmu.”
Aku terdiam dan berfikir..
“Allah berfirman: wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “hendaklah mereka menutupi jilbabnya keseluruh tubuh mereka”yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan maha pengampun, maha penyayang.”   Mama menjelaskan
“ma..ma..” aku peluk mama terasa aku adalah wanita yang paling berdosa.

Fikiranku melayang terasa ada sesuatu hal yang mengganjal dihatiku dan otakku.
Tak tau mengapa ingin sekali aku mencari baju muslimku dulu bekas aku pakai di hari raya idul fitri.
Aku lihat wajahku dicermin, terlihat baju lengan panjang lengkap dengan kerudung menutupi tubuhku, dan aku merasa lebih cantik dari biasanya.
Mama tersenyum lebar saat aku keluar dari kamar untuk berangkat kuliah.
“Mama, Clara berangkat dulu ya.”
“asalamualaikum” aku cium tangan mama
“Iya sayang, wa’alaikumsalam.”

Kakiku melangkah lebih cepat seraya tak sabar menemui laki-laki yang sudah berjasa menyadarkanku.
“Ferdi.” Sapaku memotong obrolannya.
“Clara”
Tak seperti kejadian di caffe kemarin yang hanya melirikku kali ini ia tersipu melihatku.
“Kamu cantik sekali.” Pujian Ferdi
Aku hanya tersenyum malu.
“Sob, gue pergi dulu ea.” Salah seorang teman ferdi pergi.

“fer makasih sudah menyadarkanku” suara lirih keluar dari bibirku
Ferdi tersenyum
“aku cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu. Aku ingin menjagamu”
“tapi mengapa kemarin kamu bersikap seperti itu?” tanyaku heran
“aku ingin kamu menyadari, aku bukan cinta dengan kecantikanmu tapi aku cinta dengan hatimu.”
“jadi kita nggak putus.?”
“untuk saat ini kita berteman saja tapi setelah lulus aku akan datang kerumahmu untuk melamarmu.” Ferdi meyakinkan
 Kini aku menyadari arti sebuah cinta.. cinta tak sekedar memiliki tak sekedar rasa tak sekedar kata ataupun apalah orang mengatakan tapi bagiku cinta adalah perubahan untuk menjadi lebih baik. Saling menjaga , saling menghormati dan saling memahami.
Cinta tak harus diaplikasi dalam bentuk perbuatan ataupun perkataan yang pasti cintalah yang mampu membawaku menuju jalan yang lebih baik.
Meskipun hanya setangkai bunga cinta yang ia berikan padaku tapi berjuta perubahan ia bawa untukku.
 “Terimah kasih cinta”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS